Tongkat Kasih

kasih Allah

Allah begitu mengasihi manusia yang berdosa

(Matius 22: 37-39;   1 Yohanes 4: 20).

Suatu ketika hiduplah seorang janda dan anak laki-lakinya. Janda ini sangat miskin, sehingga kadang-kadang mereka harus menahan rasa lapar jika tidak bisa mendapatkan makanan. Karena prihatin melihat keadaan mereka, Tuhan mengutus seorang malaikat untuk memberikan tongkat wasiat kepada anak janda tersebut. “Apapun yang disentuh oleh tongkat ini akan berubah menjadi permata yang indah,” kata Malaikat kepada anak laki-laki si janda. Betapa senangnya anak laki-laki itu, karena ia hanya perlu menyentuhkan tongkat wasiat itu pada sebuah benda, dan benda itu akan berubah menjadi permata yang indah.

Meskipun kisah diatas bukanlah kisah nyata, namun ada pelajaran berharga yang dapat kita angkat. Seperti anak laki-laki yang mendapatkan tongkat wasiat dari malaikat, sebagai orang percaya kita sudah menerima “Tongkat Wasiat”. Tongkat wasiat itu tak lain adalah kasih ilahi yang sudah dicurahkan dalam hidup kita. Dengan menyentuhkan tongkat kasih, kita dapat menggubah suasana permusuhan menjadi suasana damai. Dengan kasih pula kita dapat mengubah hati yang keras menjadi lembut. Pendeknya, kasih dapat menjadikan jalan hidup yang sulit menjadi lebih mudah.

Kasih merupakan ajaran kristen yang paling mendasar. Ketika orang-orang farisi bertanya kepada Yesus mengenai hukum mana yang terutama dalam hukum Taurat, Yesus menjawab;

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan pertama.

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Mengapa kasih dikatakan sebagai hukum yang terutama dan didalam kasih tercakup seluruh hukum Taurat? Karena kita juga mengasihi Tuhan yang telah memberikan titah-titahnya, maka kita akan mentaati semua hukum yang Dia berikan. Dan ketika kita mengasihi sesama, maka kita tidak akan melakukan sesuatu yang jahat terhadap mereka. Inilah alasan mengapa kasih menjadi hukum yang terutama.

Di dalam kehidupan yang sarat dengan ambisi, persaingan dan kepentingan diri sendiri, orang sudah semakin sulit untuk mengamalkan kasih seperti yang Tuhan perintahkan.

Banyak orang hanya melakukan kasih yang bersyarat, artinya ia hanya akan mengasihi orang-orang yang mengasihinya, tetapi jika seseorang tidak mengasihinya, maka ia pun tidak akan mengasihi orang tersebut. Atau, ia mengasihi seseorang karena ada kepentingan pribadi tertentu. Sesungguhnya bukan kasih seperti ini yang Tuhan harapkan. Tuhan ingin agar kita mengasihi tanpa syarat, karena kasih bisa mengubah segalanya.

“Kasih adalah sesuatu yang ajaib, ia mampu mengubah yang tidak baik menjadi baik ”.

About admin

Admin web GKIIbethel.com